Friday, July 29, 2011

Sorga dan neraka

I am who I am (Exo 3:14)
Belum lama ini kita kembali diingatkan oleh peristiwa 911 yang sangat memilukan hati. Dimana ada sekelompok orang yang membajak beberapa pesawat yang kemudian digunakan untuk melakukan aksi bunuh diri dengan nama Tuhan. Sungguh mengherankan bahwa ada seseorang bisa melakukan suatu tindakan pembunuhan dengan alasan untuk kemuliaan Tuhan.

Kelompok teroris ini mempunya suatu dasar pemikiran yang hampir mirip dari setiap sel mereka. Seperti kita baca dibeberapa artikel di surat kabar, majalah, TV, berita ttg suatu kelompok terorisme, yang mengiming-imingi para pelaku bom bunuh diri dengan suatu janji, bahwa mereka akan masuk SURGA, dimana disana mereka akan menikmati suatu kenikmataan yang luar biasa hebat dibanding dengan yang ada dibumi, mereka akan dilayani oleh beberapa bidadari yang cantik, dan segala macam kenikmatan yang lainnya.

Mengejar Surga atau Janji Surga telah kita sadari merupakan salah satu goal yang paling dicari oleh manusia beragama, sebab manusia yang beragama tahu ttg keberadaan surga dan neraka, ttg tempat dimana kehidupan setelah dibumi berlanjut dan mempunya dua sisi yang sangat bertentangan, suatu tempat yang sangat baik dan yang satu merupakan tempat yang sangat buruk.Lain halnya untuk manusia yang tidak beragama atau atheis, karena mereka menentang keberadaan Tuhan, dengan sendirinya mereka tidak mengganggap surga dan neraka exists.

Dalam kekristenan, surga dan neraka, merupakan dua tempat yang cukup sering dibahas, baik dalam kotbah di mimbar atau bahkan cerita kesaksian ttg seseorang yang secara ajaib dibawa ke tempat tersebut. Kesaksian-kesaksian ttg surga dan neraka terkadang dapat membangkitkan iman kita atau bisa menjadi teguran kepada kita untuk kembali lebih sungguh-sungguh dalam menjalankan kehidupan kita sebagai anak-anak Allah. Tapi terkadang kesaksian-kesaksian ini bisa menjadi seperti pedang bermata dua, disatu sisi membangkitkan iman, disisi yang lain menjadi umat takut dan mengejar Surga.

Tetapi apa salahnya mengejar Surga dan menghindar Neraka? Bukankah memang kita harus mengejar Surga dan menghindari Neraka?

Ada beberapa kesaksian ttg surga yang pernah saya baca atau dengar ttg bagaimana di surga terdapat rumah yang mewah, tapi ada rumah yang kecil, ada mobil mewah dari awan. Semua yang hebat diberikan kepada mereka yang punya pahala paling besar (atau dengan kata lain yang punya mahkota paling banyak), sedang yang kecil, rumah yang tidak mewah diberikan kepada mereka yang tidak mempunya pahala yang banyak. Kemudian apa berarti nanti di surga, masih tetap terdapat masalah sosial? ada Kesenjangan Sosial? kemudian orang yang menjadi percaya hal ini akan ramai-ramai mengejar kekayaan surgawi, mereka akan menolak semua kesenangan dunia, mengkutuk hal-hal yang duniawi, tapi kemudian mereka mengharapkan hal yang sama disurga. Bahkan mereka menggunakan ayat-ayat alkitab untuk membenarkan cara berpikir mereka (Mat 6:19-20). Aneh bukan?

Kemudian ttg neraka, ada beberapa kesaksian yang dari beberapa orang yang pernah secara ajaib dibawa ke nereka, bagaimana manusia disiksa disana, dagingnya dibakar, semua hal-hal yang menjijikan dan menyakitkan, kemudian kesaksian berlanjut bahwa ada pendeta yang masuk neraka, ada banyak orang kristen masuk neraka bahkan orang-orang rohaniawan terkenal juga ada disana. Kemudian para jemaat yang membaca/mendengar menjadi takut dan kemudian dengan segenap hati mencari tahu bagaimana cara menghindari nereka. Kemudian karena orang percaya aja bisa masuk neraka, mereka beranggapan bahwa menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saja tidak cukup, mesti ditambah dengan perbuatan-perbuatan yang katanya "mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar". Parahnya, sikap ini semakin banyak menghingapi orang percaya bahkan yang telah cukup lama hidup dalam kekristenan. Mereka lupa bahwa tidak ada perbuataan manusia yang sanggup membawa kita masuk dalam kerjaan Surga, selain oleh darah Kristus.

Menyembah Tuhan dan beribadah karena didasari oleh rasa takut atau rasa ingin mendapatkan sesuatu bukan merupakan dasar beribadah yang benar. Sikap yang hanya didasari oleh rasa takut atau rasa ingin mendapatkan sesuatu melalui ibadah merupakan suatu sikap Ultra-Egoistis manusia. Manusia menjadi begitu egois dan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, bahkan tidak peduli lagi bagaimana kita 'memperlakukan' Tuhan, yang penting bahwa nanti setelah kehidupan di bumi berakhir, manusia bisa menikmati segala sesuatu untuk Dirinya Sendiri.

Tuhan Yesus selama pelayananNya di dunia. tidak pernah menakut-nakuti manusia ttg neraka atau mengiming-imingi umat Israel dengan janji-janji Surga. Tuhan Yesus lebih memilih untuk meyakini umat israel ttg kepastian tempat tinggal di rumah bapa (Yoh 14:2 = "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal...."). Tuhan Yesus juga mengajarkan kita untuk lebih mengejar pengenalan akan Tuhan daripada keinginan untuk mencapai surga (Mat 6:33 "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu"). Bahkan saat Yesus mengajarkan muridnya untuk berdoa, Tuhan Yesus mengajarkan doa bapa kami:

Bapa kami yang ada di Sorga,
dimuliakanlah nama-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di atas bumi seperti di dalam Sorga.
Berikanlah kami rejeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni
yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Amin.
Di dalam doa ini tersirat tugas kita untuk mengrealisasikan Surga di bumi dan bukan membumikan Surga.
Allah yang kita kenal, merupakan suatu pribadi. Pengenalan akan pribadi Allah itu lebih penting daripada iming-iming janji ttg kekayaan kita di surga. Tujuan akhir dari manusia adalah menjadi kekasih Allah, menjadi satu dengan yang dikasihi di dalam rumahNya yang kekal, dan bukan untuk memiliki hal-hal kemewahan yang tidak sempat dimiliki didunia. Jika kita perhatikan ttg nubuatan akhir jaman yang terdapat di kitab wahyu, jelas terlihat bahwa semua pahala yang nanti kita terima itu tidak berharga daripada pengenalan akan Tuhan (Wah 4:10) dan menjadi satu dengan sang Kekasih.

Di dalam perjanjian lama, saat Musa bertemu Tuhan di gunung Horeb, saat Musa bertanya apakah yang harus ia katakan kalau umat Israel bertanya siap Tuhan yang mengutus Musa, maka Tuhan berkata "AKU ADALAH AKU" (Keluaran 3:14), bukan dengan mengatakan, "Akulah Tuhan yang maha kuasa" atau "Akulah Tuhan yang memberkatimu" Akulah Tuhan "yang akan membawamu ke Surga yang mewah", tetapi hanya "AKU ADALAH AKU" yang menunjukkan kepribadian Allah. Allah yang menunjukkan siapa pribadiNya dan bukan apa yang Ia bisa lakukan. Jika kita analogikan hubungan Tuhan-manusia dengan sepasang kekasih, apakah kiranya jika salah satu dari pasangan kekasih itu hanya berpikir bahwa hubungan/relationship yang ia bangun adalah untuk mendapatkan kekayaan dari pasangannya, atau segala macam yang mewah dari pasangannya? tentunya ini adalah hubungan yang tidak sehat, kata yang lebih akrab adalah "Cewe/Cowo Matere".

Hukum terutama dalam hukum taurat adalah "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa" tanpa embel-embel yang lain, tanpa didasari rasa takut seperti ketakutannya hamba yang mendapat 1 talenta dalam kisah perumapaan hamba dengan talenta yang diceritakan oleh Yesus. Kasihilah Dia, kejarlah pengetahuan akan Dia, pribadi dengan pribadi, bukan kenal karena kata orang (Ayub 42:5), tapi kenalilah Dia secara pribadi. Beribadahlah dengan ketulusan hati, sembahlah Dia dalam roh dan kebenaran.

Sebagai penutup, ada sebuah kisah dari negeri 1001 malam yang bisa menjadi rangkuman dari tulisan diatas:
Syahdan, sufi masyhur itu menyusuri jalan-jalan kota Bagdad yang hiruk-pikuk. Ia menjinjing seember air dan sebuah obor. Ketika ditanya hendak kemana, ia menjawab enteng: "Aku hendak membakar surga dengan obor dan memadamkan neraka dengan air!" Konon, Rabiah Adawiyah, sang sufi itu, resah akan tingkat ketulusan manusia dalam beribadah. Mereka hanya ingin meraih surga dan mengelak neraka. Kemudian rabiah ini menuliskan sebuah prosa yang dikenal sebagai doa adawiyah:

Jika aku menyembah-Mu karena berharap surga, jauhkanlah surga itu dariku
jika aku menyembah-Mu karena takut akan neraka, cemplungkanlah aku ke kedalamannya
Namun jika aku menyembahMu demi diriMu saja
Janganlah tahan keindahanMu yang abadi itu dariku
****

No comments:

Post a Comment

Post a Comment